Apa kabar, boi?
Percaya ga percaya, dia mengingatkan gue pada lo.
Actually, i’m screwed.
Dan lo tahu apa? Gue butuh tong sampah.
Banyak sampah yang mau gue buang.
Banyak, banget.
Salah satunya si-kpk-hater: dia mah emang sampah.
Bego.
October 25, 2009
Well yes, blame me upon a rush of blood to the head.
Kesepian
October 23, 2009
Kenapa sih orang-orang harus pergi?
Padahal padat, tetapi kopong.
Jadi kenapa sih, kalian harus pergi?
Saya berteman sepi di sini.
Muse
October 11, 2009
Muse adalah para dewi atau roh yang menginspirasikan proses penciptaan dari sebuah literatur dan seni dalam mitologi Yunani kuno. Mereka dianggap sebagai sumber ilmu pengetahuan, selalu dibincangkan selama berabad-abad yang lampau dalam kebudayaan kuno, yang berisikan tentang puisi dan mitos. Aslinya dikatakan bahwa ada sejumlah tiga muse, pada era klasik 400 SM, angkanya telah berkembang dan menjadi satu set sembilan dewi yang dianggap sebagai perwujudan dari seni dan menginspirasikan proses penciptaan dengan keanggunan mereka, melalui daya ingat dan improvisasi lagu, penulisan, musik tradisional dan seni tari.
-diambil dari Wikipedia Berbahasa Indonesia
Muse.
Selama dari apa yang saya dengar dan hal-hal yang membuatku familiar dengannya, Muse merupakan inspirasi. Bagi banyak orang, muse sama dengan cinta. Sama dengan hidup, sama dengan indra, sama dengan semangat hidup. Begitu besar pengaruh aspek muse dalam kehidupan seseorang karena tanpanya seseorang ini tidak bisa melakukan atau menciptakan sesuatu tanpanya. Sebut saja Salvador Dali. Galarina, istrinya, merupakan muse yang luar biasa. Baginya, dan juga bagi banyak seniman lainnya. Seorang teman sampai pernah mengatakan kepada saya,
“Ah Dali, when can I ever find my Gala?”
Saat saya menulis sebuah tulisan, kekonsistensian saya melanjutkannya bergantung kepada motivativasi (dalam hal ini, katakanlah: muse) untuk menyelesaikannya. Pada akhirnya, cuma pernah ada satu yang selesai saya tulis. Pernah suatu waktu saya demikian bangga karenanya, betapa karena satu muse itu seluruh dunia saya tercurah pada tulisan yang sama. Trans, kata satu orang. Begitu menghayati peran saya sebagai pencipta. Namun kekaguman saya kepada satu muse itu begitu singkat, tidak bertahan lama. Siapa ya yang dulu pernah bilang… Ah. Hot love quickly colds down. Wah, true. Sisanya, jangan harap. Ini cuma suatu bukti bahwa menulis bukanlah pekerjaanku, seperti halnya yang pernah dikatakan penulis novel Abarat: Kekecewaan melandaku, sampai-sampai kini lanjut menulispun aku tidak.
Tidak bisa.
Kendati semua orang mengatakan betapa bagusnya kualitas tulisan saya di masa lalu dan betapa saya sebetulnya bisa merangkak kembali ke fase kejayaan masa lampau, tidak bisa. Rasa-rasanya, jawabannya kini sudah jelas.
Sampai kutemukan kembali dewi itu, saya ini cuma seorang manusia biasa,
tanpa rasa rindu yang menggebu kepada literasi, apalagi seni.
Watch Over You
October 11, 2009
I tried to carry you and make you whole
But it was never enough
I must go
[Chorus:]
Who is gonna save you
When I’m gone?
And who’ll watch over you
When I’m gone?
You say you care for me but hide it well
How can you love someone
And not yourself?
And when I’m gone
Who will break your fall?
Who will you blame?
I can’t go on and let you lose it all
It’s more than I can take who’ll ease your pain?
Ease your pain
[Chorus:]
Who is gonna save you when I’m gone?
Who’ll watch over you?
Who will give you strength when you’re not strong.
Who’ll watch over you when I’ve gone away?
Snow is on the ground winters come
You long to hear my voice
But I’m long gone
ALTERBRIDGE
Tukang Kuntit
October 8, 2009
Suatu adiksi, sayang. Saya—atau apapun kata yang bisa kugunakan untuk memanggil diriku sendiri dalam konteks cerita ini mau tak mau membuat kami; kita; saya; hewan nista ini gundah. Kita hidup dalam dongeng, sayang. Dongeng sadis di mana keliaran imajinasi seseorang bisa teronggok mati, terperkosa oleh kenyataan yang bisa datang dan pergi. Ada saatnya aku datang; tapi lebih banyak lagi saat aku pergi. Ini untuk mereka yang tinggal saat kuusir mereka pergi. Untuk mereka yang pergi saat kuminta mereka tinggal. Mereka yang memintaku tetap hidup saat kuingin mati. Mereka yang menyuruhku mati saat kuingin pergi. Mereka yang kucintai tapi membenci. Mereka yang kubenci tapi kucintai. Mereka yag mengambil milikku, dan membuangnya. Mereka yang mengambil apa yang kubuang, dan menyimpannya. Mereka yang menjadi cinta seumur hidupku. Mereka yang jadi musuh abadiku. Mereka yang jadi inspirasiku siang dan malam. Mereka yang menghancurkan asaku dalam satu kedipan mata. Mereka yang telah melupakanku tapi kuingat. Dan mereka yang telah kulupakan tapi tetap mengingat.
Dan untuk mereka yang selalu ada, meski aku tidak akan ada.
Tapi dia selalu menungguku. Selalu.
***
Selesai cerita: Larilah selagi kau bisa.
(tersenyum)
Prefiks Secarik Chapter
October 8, 2009
Manusia.
Mobil.
Hmm… Motor?
Ya ampun. Itu… pohon?
Cukup. Gadis itu menutup mata, menautkan alis. Tirai kamarnya yang bernuansa biru-putih polos itu dilepaskan bebas dari jemari pendek gemuk yang sedari tadi berusaha menahan telanjangnya pemandangan di luar jendela. Dan apa yang dia lihat? Secara harafiah, berarti banyak. Setengah atasp, hutan bamboo, gemericik kolaborasi antara kedua musuh bernama kabut dan hujan, serta desingan deru suara mesin pesawat.
Dan gadis itu: Aku; Saya; Beta; Gue; siapapun-penulis ini. Gadis ini.
Prolog kesekian dari chapter kesekian dari lembaran hidup Sang Gadis. Anda bosan? Well, saya tidak. Setiap awalan selalu punya prolog. Perkenalan standar menurut adat yang telah distandardisasikan oleh masyarakat di mana kita semua tinggal. Indonesia. Pagi ini gadis itu mungkin hanya melihat kekecewaan. Tapi kekosongan yang dia cintai sebagai bagian dari belahan hidup-tidak jelek juga, bukan?
Pagi ini-siang, mungkin-saat Anda sudi datang dan menatap iris-iris saya di tengah kacaunya lingkungan Anda, saya tidak bisa membantu. Gadis ini datang karena dia membicarakan sisi kehidupannya; di mana karena dia kesepian, tidak ada yang bisa ia tumpahkan untuk ceritakan. Sekarang giliran Anda. Apa yang Anda lihat di seberang jendela itu? Bagi si gadis, mendeskripsikan sesuatu dengan seni kata-kata yang tidak efektif adalah suatu ketenangan batin. Pahit tapi manis seperti coklat. Memabukkan, menjijikkan, tapi menyenangkan. Seperti anggur putih. Dengan cara ini, dia menikmati keindahan yang disuguhkan kepadanya. Biar mereka bilang konvensional, kontemporer, maupun renaissance: apapun komentar Anda, saya hanya bisa menyambut Anda dengan sebuah senyuman.
Artinya, Tuan?
Selamat datang.
Aduh duniaaa, lo apa banget deh!
October 8, 2009
Ketika maling teriak maling, anak meneriaki ibu, dan gadis-gadis baik-baik mati perawan tua;
…apa kabar masa depan?
Pluralisme (mungkin)?
October 7, 2009
Plagiarisme. Pelanggaran privasi. Perang status. Tukang pamer. Gosip subjektif. Main belakang. Nepotisme. Pengotak-ngotakkan. Karena ‘bahasa gaul’ jauh lebih keren. Muka dua. Perpecahan internal. Egois. Membosankan. Emosional. Kejenuhan berkepanjangan. Praktek penindasan. Statis. Eksklusivisme. Cari aman. Sok eksis. Sok polos. Sok berhak. Sok setia kawan. Sok mengatur. Sok bijak. Sok terluka. Adiksi. Inkonsistensi. Tidak konvensional. Kampanye hitam. Penyalahgunaan wewenang. Dengki. Kebencian kaum minoritas. Fitnahan hedonisme. Mencari-cari kebusukan lawan. Bertele-tele. Menggurui. Akal licik. Bisanya ngiri. Tidak mau kalah. Eksperimental gagal. Tidak realistis. Superbia. NGERTI BAHASA INDONESIA GA SIH? . Dusta. Makan hati. Tidak tahu diri. Tidak beretika. Cemburu buta. Provokatornya inkompeten. Bisanya omong doang. Saling tuduh. Mencari aliansi.
TIDAK KREATIF!
Alah. Bicara tentang IH, kapan sih ada habisnya?
Prakata
October 7, 2009
Ada perbedaan masif antara sesuatu yang ingin kamu lakukan, dan sesuatu yang harus kamu jalankan. Hidup itu sebuah pilihan, mereka bilang, tapi kalau kamu tanya kepada saya, hidup itu dibagi cuma tiga pilihan. Pertama, kamu ingin. Ketiga, kamu Harus. Dan yang ketiga; tidak. Lebih baik kamu tidak tahu ada yang namanya pilihan ketiga.
-Anonymous-
Ada kalanya saya berlari memaksakan diri; menatap ke depan hingga semua tumpukan rintangan yang telah saya lompati menjadi luka yang menumpuk, kumulatif seiring waktu.
Ada kalanya saya memejamkan mata, menutup telinga saya.
Ada kalanya saya menengok ke belakang, menangis, meratap; sampai akhirnya seseorang menampar saya habis-habisan—memecut saya untuk kembali ke masa kini.
Serba salah.
Saya digerogoti waktu; dibuai semu; tapi saya tetap sama.
Tempat ini adalah kumpulan apa yang telah jadi masa lalu saya; pengulangan hal-hal yang telah saya buat sebagai nisan pengingat jika saya butuh waktu stagnan untuk sekedar berhenti dan menghela nafas.
Merupakan tempat saya di masa kini; saya, dan kamu di mata saya.
Halo.